Bobroknya Angkutan Umum di Bali

Jika ingin liburan ke Bali, hindari naik angkutan umum-dari dan ke-Terminal Mengwi dan Terminal Ubung, Bali!


Liburan murah ke Bali, sekarang ini saya rasa sangat sulit untuk dilakukan. Pasalnya angkutan umum langsung atau transfer dari satu perhentian ke perhentian lain yang jadi andalan traveling para backpacker demi harga yang murah, sudah dikuasai preman-preman angkutan umum yang memasang tarif sangat mahal.


1. Terminal Mengwi
Senin, 21 November 2016 pukul 3 pagi waktu setempat, kami sampai di Bali  atau Terminal Mengwi setelah naik Bus malam selama 4 jam dari Pelabuhan Ketapang. Bus ini berhenti di Mengwi untuk urusan retribusi sebelum melanjutkan perjalanan ke perhentian terakhir Terminal Ubung yang merupakan tujuan kami. Sebelumnya kami sudah membayar 50rb/org untuk sampai ke Ubung, dan 40rb/org jika hanya sampai Mengwi.

Tak lama setelah bus berhenti, ada seorang pria yang perawakannya seperti polisi berpakaian preman membawa satu buah senter kecil masuk ke dalam bus. Ia teriak-teriak meminta seluruh penumpang bus untuk turun. Saya pikir ada pemeriksaan, tapi karena sopir dan kenek bus diam saja tak bergeming, saya pun tak mengindahkan perintah untuk keluar dari bus tersebut.

Setelah beberapa kali teriak-teriak meminta penumpang bus untuk turun "ini terakhir ya, ayo turun, semua!" sambil memaksa dan menarik lengan baju penumpang, akhirnya ada yang berdiri dan mulai turun. Kami kebingungan. Tapi karena penumpang bus yang sudah biasa keluar masuk Bali juga turun, kami pun ikut turun bersama penumpang bus lainnya. Hanya beberapa yang tetap tinggal di dalam bus, dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Ubung.

Loh, ini ngapain juga ikutan turun di Mengwi, saya bayar bus untuk sampai di Ubung!

"Tunggu di sini, saya ambil mobilnya dulu." Kata orang yang memaksa kami turun tadi.

Sesaat kemudian saya baru sadar kalau ini adalah upaya supir preman untuk memaksa penumpang naik mobil AVP-nya. Dia bertanya kami berlima mau ke mana. Kami jawab saja ke ubung. Lalu dia mengeluarkan sebuah kertas yang dilaminating, berisikan daftar harga dan tarif untuk sampai ke tujuan.

Dari daftar yang saya lihat, tarif-tarif yang dipatok untuk sampai ke tempat wisata populer harganya ratusan ribu per-orang. Untuk ke Kuta saja misalnya, tarifnya mencapai 200rb/org. Gila! Ini sama saja perampokan. Untuk mendapatkan harga yang murah, kami harus menuju Ubung yang tarifnya 15k/orang. Mau bagaimana lagi, angkutan lain belum beroperasi pukul 3 pagi. Kami berlima dan tambahan dua orang lainnya yang juga akan menuju Ubung setuju saja diantar dengan mengeluarkan biaya tambahan lagi15rb/org. Saya kira permasalahan sudah selesai sampai di sini. Nyatanya si sopir preman menyatakan tarif tersebut adalah jika mobil penuh 10 orang. Jika ingin berangkat sekarang, harus bayar 20rb/orang. Kami menolak untuk membayar lebih, dan diminta untuk menunggu sisa tiga orang yang akan datang berikutnya.

Di sana ada 2 orang petugas LLAJ yang bertugas dan melihat kejadian tersebut. Ketika saya bertanya apakah hal tersebut wajar, ia hanya mengatakan "gak apa-apa, nego aja.."
Setelah medengar jawaban tersebut saya langsung paham kondisi terminal-dan petugas yang mungkin dikuasai preman tersebut.

Hampir setengah jam kami dibodohi karena disuruh menunggu, preman yang tadi bersama seorang temannya mendatangi kami dan negosiasi masalah harga. Kami meminta untuk diantarkan langsung ke Legian atau Poppies 2 saja. Mereka memberi harga 40rb/org yang kemudian kami tawar jadi 30rb/org. Setelah tawar menawar mereka memberi potongan 5rb/org, tapi kami tetap berkeras dengan harga semula. Enak saja, kami sudah dipaksa turun, rugi banyak dan dibodoh-bodohi. Setelah cukup lama tak ada kesepakatan, saya mengajak teman-teman saya untuk keluar dari area terminal. Di luar terminal ada angkutan mikrolet yang bersedia mengantarkan kami sampai ke Ubung dengan harga 10rb/org setelah tawar menawar.

Sopir mikrolet ini sebenarnya kucing-kucingan dan takut dengan sopir preman di dalam terminal. "Abang minta berapa, naik aja dulu, nanti ketahuan anjingnya susah saya." Katanya dengan gelagat takut dan terburu-buru.

Sesampainya di depan terminal Ubung, kami langsung didatangi oleh beberapa orang sopir angkot. Saat itu juga ada sebuah mobil AVP putih yang datang hampir berbarengan, yang ternyata sopir preman dari terminal Mengwi tadi. Ia marah-marah, mengancam, dan memaki saya menggunakan bahasa Bali, kemudian mengejar mikrolet yang tadi mengantarkan kami.

Saya sedikit shock dengan kejadian tersebut, tapi ya sudahlah, jadikan pengalaman. Kami naik angkot 15rb/org setelah tawar menawar, menuju Poppies 2 untuk mencari penginapan murah.

Tips: untuk bepergian bersama 2-4 orang, lebih baik menggunakan taksi. Selain lebih hemat, tentunya lebih aman dan nyaman. Saya pun saat itu juga sempat cek tarif taksi dan Uber, yang harganya kurang lebih sama (naik uber ada biaya tambahan 25rb/org di luar tarif, jika lebih dari 4 orang) karena penasaran dan mungkin saja bisa dapat harga termurah, makanya kami pilih ganti-ganti angkot.

2. Terminal Ubung
Rabu, 23 November 2016 pukul 1 siang waktu setempat. Kami tiba di Terminal Ubung setelah naik taksi dengan tarif 110rb dari Legian. Kami ingin bertolak ke Pelabuhan Gilimanuk, menyeberang ke Pelabuhan Ketapang, dan kemudian naik Kereta Api di stasiun Banyuwangi Baru untuk menuju Surabaya.

Baru saja turun dari taksi, dua orang teman saya yang tidak sigap kebingungan karena tasnya sudah dibawakan oleh preman-preman ke dalam terminal. Saya langsung marah-marah kepada teman saya kenapa gak bisa jaga tas sendiri. Akhirnya kami terpaksa harus mengikuti tas teman saya yang sudah dibawa ke dalam bus setelah preman-preman tersebut mendengar tujuan akhir kami adalah Surabaya.

Saya sempat bertanya kepada petugas LLAJ dan loket di terminal mengenai kejadian tersebut, lagi-lagi jawabannya membuat saya heran dan terperangah dengan kondisi terminal yang dikuasai preman-preman ini. "Gak apa-apa Mas ikutin aja, jangan dilawan, nego aja..."

Di dalam bus, kami dimintai uang 275rb untuk langsung sampai menuju Surabaya. Mahal! Kami kebingungan, kami meminta turun dengan alasan kami tidak bawa uang lebih dan hanya ingin turun di Gilimanuk. Tapi kami didorong-paksa duduk lagi. Main tangan!

"Sama aja, mau turun di mana harganya tetap sama, pukul rata 275rb!"
"Mau diskon? Bisa tapi di bagasi, mau?!"
"Ayo cepet, mana uangnya sini keluarin!"

Bersama beberapa penumpang lain, kami dikurung di dalam bus yang dihidupkan agar terlihat seperti akan segera berangkat. Kemudian kami diancam dan diperas paksa. Kami dirampok! Di dalam bus yang dikunci dengan lebih dari 8 orang preman, kami diintimidasi! 

"Ayo mana uangnya cepet! Apa mau saya yang ambil sendiri?!"
"Jangan, jangan! Jangan ditusuk dulu! Jangan di-dor dulu!"
"Yasudah di dompetnya ada berapa, keluarin dulu nanti sisanya dibicarakan."

Setelah mengeluarkan berbagai alasan dan tawar menawar, kami diberi harga 220rb/org untuk sampai langsung ke terminal Purboyo Surabaya. Itupun terpaksa, karena uang teman saya sudah diambil-tarik paksa. Jumlahnya pun sudah disulap. Mau tidak mau saya yang sudah drop-down juga harus bayar sekian agar tidak terlalu rugi untuk bisa sampai Surabaya. Sisa kurangnya harus pergi ke Atm. Menuju ke Atm ini pun diantar salah seorang preman menggunakan motornya. Saya ambil seperlunya agar tidak dirampok lagi. Sesampainya kembali di terminal, saya malah dimintai uang ojek 50rb. Kurang ajar! Saya marah-marah dengan dalih tidak punya uang lagi dan hanya cukup bayar sisa buat bus.

Setelah urusan ancam-mengancam dan bayar-membayar ini selesai, kami dipindahkan ke dalam bus yang benar-benar akan berangkat. Rupanya bus yang tadi hanya untuk keperluan memeras dan mengintimidasi. 


Dua orang preman di terminal ubung, bali yang mengintimidasi perempuan.
Dua orang preman yang mengintimidasi perempuan.

Di dalam bus, kenek dan sopir bus yang asli menanyai kami "gak sempat di apa-apain kan? Preman sini itu." Katanya dengan gelagat yang sedikit takut juga.
Saya takjub dengan kondisi terminal yang benar-benar dikuasai preman ini.
Beberapa penumpang lain malah ada yang dimintai uang 400rb. Gila! Bahkan saya melihat ada seorang perempuan yang sampai menangis karena diintimidasi. 

Dengan kondisi angkutan umum yang seperti ini, saya tak heran lagi kenapa terminal Mengwi ditinggal penumpangnya. Kondisi fasilitas umum seperti toilet, dan lain-lainya saja rusak tidak bisa digunakan.

Aksi preman di Terminal Ubung sangat parah. Jika kalian ingin melancong ke Bali dengan cara backpakeran sebaiknya hindari saja terminal-terminal ini-walaupun sepertinya mustahil. Tapi jika ingin percaya dan dapat pengalaman sendiri, silakan saja.
Tapi, bukankah yang membuat preman-preman terminal ini tetap bisa makan dan seenaknya dengan merampas adalah karena adanya penumpang? Lalu, bagaimana kalau terminal Ubung ditinggalkan penumpangnya?

Saya sempat membaca beberapa artikel dan media cetak yang membahas preman-preman terminal di Mengwi dan Ubung ini. Tapi nyatanya pihak yang berwenang tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan baik. Entahlah..

Mungkin ada yang ingin turun ke lapangan dan menguji coba faktanya. Traveller? Pihak yang berwenang atau yang bertanggung jawab mungkin? Pihak dishub? Asal jangan pihak berwenang setempat, yang mungkin bisa saja sudah dikuasai.

P.S: Update 29 April 2017, saya mendapat kiriman foto dari Bli Aryak yang merupakan salah satu anggota kepolisian di Polda Bali.

Postingan terkait:

87 Tanggapan untuk "Bobroknya Angkutan Umum di Bali"

  1. Sekedar sharing saja, saya sempat selama 4 bulan (Mei-Agustus 2016), PP solo-denpasar setiap 2 minggu sekali, naik dan turun di terminal ubung, beruntung saya belum pernah menemui atau merasakan teror seperti yang anda alami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukur deh, saya berharap gak ada lagi orang yang mengalami kejadian seperti yang saya alami.

      Salam,

      Delete
  2. Berarti bisa dibilang hampir setiap backpacker yang mau ke Bali pasti lewat Ubung dan Mengwi ini?
    Saya sempat kepikiran backpacker ke bali september kemarin, setelah baca ini mungkin saya harus bersyukur kayaknya dan maksain pake pesawat aja :\

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin begitu, karena terminal ini yang jaraknya paling dekat dan merupakan akses paling mudah menuju berbagai jalan di Bali

      Hehe, selamat berlibur..yang penting hati-hati

      Delete
  3. Orang Bali sudah ga kaget sama hal ini. Salah satu solusi menghindari terminal ubung/ terminal mengwi, bisa minta turun di terminal Pesiapan Tabanan Bali yang jaraknya 15 menit sebelum terminal mengwi kalo dari gilimanuk. Terminalnya relatif aman tanpa preman. Semua sopir jawa-bali tau kok terminal pesiapan Tabanan. Mudah-mudahan membantu backpacker yang ke Bali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah berbagi, Arda. Infonya sangat berguna

      Delete
  4. Dari terminal Pesiapan Tabanan juga mudah kalo mau kemana-mana. Ada trans sarbagita(Denpasar Badung Gianyar Tabanan) aka (damri bandara) Kalo mau ke arah kuta dari Tabanan kurang lebih 10ribuan. Busnya juga bagus. Ya bisa cari-cari di google tentang trayek bus Sarbagita. Enjoy ya di Bali para backpacker.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar, turun di pesiapan. tunggu bis sarbagita. aman, bersih dan murah.

      Delete
    2. Mau tanya,dari pesiapan apakah ada trayek bus sarbagita menuju langsung ke bandara? Terima kasih

      Delete
    3. Ada bus sarbagita dari pesiapan langsung bandara, tarif sekitar 10rb rupiah

      Delete
    4. Mas/Mbak, numpang nanya bis sarbagita yang ke bandara dari tabanan lewat deket ubung? ane bisa jalan kaki ke terminal?

      Delete
  5. Belum pernah ke bali sih
    Tapi informasi nya cukup bagus buat jaga jaga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membaca, Badia 😊

      Semoga traveller lainnya bisa mengantisipasi hal yang saya alami

      Delete
  6. Baru tau kalo preman-preman di ubung masi ada. Aku pernah kena ginian 2 taun lalu, pas pertama kali naek bis dari ubung. Total 270k diambil ama mereka buat nyampe surabaya, yang 20k katanya buat temen2nya yang nungguin di luar bis, harga tiket ke Surabaya 250k, udah aku kasi 250k, tapi mereka bilang aku baru kasi 150k, untung duit di dompet cuman segitu jadi mereka gabisa minta lagi. Abis itu kalo naek bis dari ubung nggak pernah kena ginian lagi, soalnya ke terminal kalo naek ojek minta aja diturunin di pintu keluar terminal jangan pintu masuk, ato kalo bawa motor sendiri entah dianterin temen ato motor dititipin di terminal, pasti udah beli tiket di loket PO bus beberapa jam sebelomnya, kalo belom beli tiket sebut aja nama PO bus yang mau dinaekin. Pesen : Jangan pernah turun di pintu masuk terminal, turun aja di depan loket PO bus ato pintu keluar terminal, kalo ditanya mau kemana, jawab aja pake PO bus yang mau dinaekin. Kalo nggak mau ambil resiko, tinggal naek travel ato pesawat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bali asik kok jangan ampe nggak jadi ke Bali gara2 orang2 kek gini. Kalo tiket pesawat dirasa kemahalan, mending naek travel yang harganya beda tipis ama bis executive (travel Surabaya/Malang ke Denpasar 210k).

      Delete
    2. Nah ini bisa jadi cara lain apabila benar-benar harus ke Ubung. Terima kasih sudah mampir dan berbagi

      Delete
    3. Kalo travel masi dirasa kemahalan, ya brati emang harus naik bis, yang udah pengalaman tau PO apa aja 'n harga tiket masing2 PO berapa. Aku biasanya naek PO "Malang Indah" dari Ubung (Denpasar) - Arjosari (Malang) cuman bayar 130k, kalo pertama kali beli tiket di suatu PO, biasanya agen PO nulis di tiket nomer hapen agen PO yang bisa dihubungi kalo mau pesen tiket lagi di PO yang sama.

      Delete
  7. Saya naik motor dari banyuwangi ke Bali (Sewa motor di Banyuwangi). Saat sampai di Gilimanuk, (nyebrang dari Ketapang) ada razia motor dan kependudukan yang ilegal. KTP saya, saya gunakan untuk jaminan motor di Banyuwangi sehingga sewaktu razia KTP saya tidak bisa menunjukannya.
    "Ini SIM bukan KTP. Saya minta KTP!" bentak petugas pelabuhan (ya, ini petugas bukan preman).
    "Yaudah mas, saya bantu saja. Rp. 100ribu per orang ya?" katanya menawarkan.
    Ya Allah Gustiii, belum apa-apa udah keluar duit 100ribu.
    Karena eman-eman (sayang) 100ribu melayang buat hal begituan, temenku pun langsung ngomong ke petugasnya.
    "yaudah, kita balik aja pak, nggak jadi ke Bali! Ini kalo balik lewat mana ya pak?" Kata temenku.
    "Oooh, yaudah. Sini masuk ruangan dulu, ketemu sama kepalanya biar dicatat." kata petugasnya sambil menggiring kami.
    Ruangannya itu ruang kosong, gelap, nggak ada meja kursi sama sekali. Dari situ aku bisa lihat tiap ada truk pasti ngasih 20ribuan. Anjeeeng, ini namanya pungli! Disitu kita dikasih tau kalo mereka mau ngebantu kita. mereka minta seikhlasnya, tololnya aku malah ngasih 50ribu ke petugas.
    "Yaudah, silakan. Lain kali dibawa ya KTPnya." katanya halus.

    Ya. Begitulah kehilangan 50K jam 11 malam di Gilimanuk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pernah kena ginian di Gilimanuk dua kali, masing2 kejadian 50k diambil ama petugas pelabuhan gara2 cuman punya KTP biasa bukan e-KTP. Pas kena yang ketiga kali, ceritanya gini petugas nanya "Dari mana mas?" aku jawab "Malang pak" petugas nanya lagi "Mau kemana mas?" aku jawab lagi "Denpasar pak" petugas nanya lagi "Mau ngapain ke Denpasar" aku jawab lagi "Kuliah pak udah 2 taun" sambil nunjukin KTM, abis itu petugasnya nyuruh aku buat lewat aja gausah bayar, tau gitu dulu nunjukin KTM aja ya sayang banget udah ilang 100k.

      Delete
    2. hahaa, sama nih! tahun lalu waktu nyeberang ke gilimanuk. Kebetulan KTP nggak kunjung jadi entah karena apa. Udah persiapan bawa passport sama Sim buat dikasih liat di Gilimanuk nanti. Kan logikanya ID yang legal kalau nggak bisa KTP passport juga bisa. eh malah dijawabnya gini:

      "mas, kalau sim urusannya sama kepolisian"
      "passport deh, kan ini juga ID. Di bandara diterima kok, malah bisa dipake ke luar negeri"
      "nah, kalau passport kan buat imigrasi mas?"
      kalau gw naik motor, mungkin gw bakal ramein. cuma karena naik bus, dan bisa ketinggalan akhirnya dengan sangat terpaksa salam tempel juga 20 rebu XD

      Delete
    3. Padahalkan lumayan bisa buat tambah2 jajan babi guling..

      Delete
    4. Wah, kalo masuk ke Bali di pelabuhan Gilimanuk emang wajib pemeriksaan identitas. Bahkan sampai ada CALO KTP! Untuk yg Ktp nya belum e-ktp. Tapi masih bisa masuk pakai identitas lain kok, kayak SIM, dll. Asalkan alasannya jelas, kalau perlu ada surat keterangannya jika tidak bisa membawa Ktp masuk Bali

      Delete
    5. Masalah pungli di Gilimanuk ini rasanya sudah dibersihkan, soalnya kemarin teman saya yg hanya masuk menggunakan SIM (identitas lain) boleh2 saja. Tapi entahlah...

      Yg masih ada hanya calo2 ktp yg lebih dari 5 orang seraya berkata "yg ktpnya belum e-ktp sini.." Ojek Ktp!

      @Fahmi (Catperku.com)
      Mas Fahmi yang sudah khatam Bali, ternyata bisa kena pungli dan salam tempel 20rb juga ya, hahaha 😂
      Coba lagi pas bawa motor sendiri ya..

      Delete
    6. BALI itu Indonesia bukan sih... anjing banget petugas mental TAIK...KTP bukan E-KTP aja jadi masalah

      Mana nih satgas saber pungli

      Delete
    7. Jangan dah ke bali bro ngabisin oksigen aja kau bro

      Delete
  8. Saya pernah mngalami kjadian sperti ini pas mw pulang liburan k Lombok.. Naik bus dri Gilimanuk menuju Padangbai, tp dpaksa turun sama ssorg d Ubung.. Trnyata kami dantar k terminal berikutnya n dturunkan lg.. Naik angkot pdesaan sampe Padangbai.. So, kami dsuruh ngeluarin duit lg.. Bener2 pemerasan namanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga hal seperti ini gak terjadi lagi ke banyak orang 😰

      Delete
  9. Serem amat sech, selama ini aku ngak pernah naik umun di bali.
    Selama ama temen2 dan rental mobil trs nyetir sendiri.

    Semoga ini jadi pelajaran buat semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama di Bali aku juga sewa motor. Emang paling enak kalau bisa naik taksi patungan, apalagi sewa motor atau rental mobil mau kelayapan di Bali.

      Yg jadi masalah adalah angkutan dari dan menuju terminal ini yg rada ngeselin.

      Delete
  10. Aku belum pernah ke Bali. Sepertinya rumit sekali jalan di sana. Citra seperti ini yg diperbuat mereka rugiin kota buat destinasi wisata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya jalan di Bali sangat mudah Mas, semuanya serba terhubung dan tembus. Bepergian di Bali paling mudah dengan motor atau mobil. Banyak yg menyediakan jasa sewanya. Jika buta jalan, cukup gunakan GPS atau Google maps, sangat mudah.

      Memang untuk transportasi antar provinsinya sangat disayangkan dengan kejadian seperti yg saya alami. Untuk antar jalan dan kota masih bisa ditoleransi

      Delete
  11. emang parah preman di Bali. kalah *PI klo urusan preman premanan. 😁
    mending ga usah ke Bali lah (biar ga macet ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan gini juga, haha. Jika ingin ke Bali, semoga sudah bisa mensiasati dan mengantisipasi terlebih dahulu hal seperti ini agar tak terulang lagi kemudian hari :)

      Delete
  12. Kesel euy dengernya.
    Kemarin ke Bali lewat jalan darat, tapi bawa kendaraan sendiri. Memang ada periksa KTP, tapi ga ada bayaran yang ga resmi sih.

    Oh ada ini aja, jadi pas balik menuju Gilimanuk ada papan penunjuk arah Pelabuhan, satu lurus satu belok. Karena mobil di depan belok, kami ikutan juga. Ternyata di ujung jalan disuruh bayar retribusi. Kalo tadi lurus aja sepertinya ga ada bayaran apa-apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau pemeriksaan identitas atau KTP sih emang wajib saat masuk Bali. Tapi tidak pernah ada biaya izin masuk. Jika ada berarti hanya akal-akalan calo, atau pungli.

      Delete
  13. nice share kak. kayaknya selalu terintimidasi perjalanan pakai bus, selalu ada calo, pengamen, tukang palak di teminal. hampir setiap terminal di berbagai kota yang baru didatangi selalu merasa ada yang mengancam. semoga semua warga indonesia lebih baik berperilaku dengan orang omong omong itu penanggalan dalam cerita kakak ada yang meleset, hari senin tanggal 21 november kalau nggak salah. salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kayaknya, di daerah2 lain juga udah mulai gak beres nih cara nyari penumpangnya.

      Terima kasih atas koreksinya Mas Lathief.

      Salam

      Delete
  14. Saya bulan Januari 2016 lalu backpackeran ke Bali naik kereta dari Jakarta. Saya sampai gilimanuk pukul 1 dinihari dan banyak yang menawari bus ke denpasar, feeling saya kalau saya sampai pukul 4 pagi di ubung ataupun mengwi, saya pasti langsung diperas, apalagi saya backpack ke sana bersama 2 teman wanita. Saya menunggu jam 4 pagi untuk naik bus ke ubung. Saya tiba di ubung jam 8 pagi, dan karena saya sudah google mengenai terminal para preman ini, saya minta diturunkan tidak di dalam terminal ubung tapi di luar gerbang terminal, kurang lebih 200 meter sebelum pintu masuk terminal, di rumah makan padang. dari situ saya naik taksi online yang tarifnya hanya 46rb ke kuta. lain kali mungkin bisa dipakai tips dari saya ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. TIPS 👆👆👆

      Terima kasih atas tipsnya Mas Joy.

      Saya juga berpikiran seperti ini, lebih baik menunggu waktu cukup tepat agar banyak pilihan angkutan umum, dan turun/naik sebelum terminal 😊

      Delete
    2. Apakah bus yg digunakan Mas Joy tidak singgah sebentar di Terminal Mengwi?

      Delete
    3. terkadang ada beberapa bis yang ga singgah di mengwi.
      Aku pernah naik bus dr arjosari - ubung tp trnyata ngak singgah di mengwi
      Tapi ga pernah kena palak"an selama ini

      Delete
  15. Nice Share gan. Jangan Kapok lagi ke Bali haha.
    Sekedar berbagi.

    Saya waktu itu juga pernah kena preman, tapi di pelabuhan padang bai Juni 2015, waktu itu mau ke rinjani berdua sama temen saya. Waktu itu pas mau ke loket tiket veri udah dihadang preman, dan digiring paksa ke veri. Nah terus disuruh bayar dengan harga tiket beda 10rb atau 20rb (ane lupa) dari tiket normal

    Dan anehnya itu dilakuin didepan petugas berseragam. Saya berdua cuma bisa geleng geleng aja, sambil berdoa semoga mereka buru buru tobat haha.

    Dan awal tahun 2016 saya nyoba solo bacpacker dari Sby ke Bali, bersyukur waktu itu aman-aman aja. Sengaja waktu itu naik Bis di Gilimanuk masih pagi buta (pas terminal sepi) dan turun di ubung di depan terminalnya. Seenggaknya cuma dikejar supir taksi sama ojek sampe dalem indomart. Terus ke denpasar via GoJek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya gak kapok kok gan 😁

      Haha lucu juga. Ini yg saya harapkan, bila sdh berpengalaman minimal tahu kondisinya, bisa menyikapi apa yg harus dilakukan 👍

      Delete
  16. Agustus akhir 2014, saya jalan sendiri backpackeran ke terminal Ubung. Alhamdulillah ga ditarik tasnya. Saya ke tempat penyewaan motor dan minta antarkan ke bandara. Pemilik penyewaan motornya baik, dipatok tarif 50rb saja.

    September 2015 saya ke Bali lagi. Mau pinjam motor di tempat tadi. Karea sudah kenal, justru saya dijemput dari hotel ke terminal Ubungnya. Lalu mengurus administrasi 50rb/motor/hari. Ga ada biaya jemput dari hotel. Baik kok pemilik penyewaan motornya.

    Saya juga ngga ada masalah dengan preman di sana walaupun saya sendirian

    ReplyDelete
  17. Laporkan ke Call Center 193 atau SMS 1193 dan website http://saberpungli.id

    ReplyDelete
  18. Seperti itulah kurang lebih jika kita berwisata di negeri sendiri. Beda dengan di luar negeri. Kok kita jadi seperti asing di negara sendiri dan merasa aman di negara lain ya? #tanyakenapa @diandaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di dalam ataupun luar negeri sama saja kok, ada yg tourist friendly dan tidak. Hehe
      Hal seperti ini mungkin terjadi karena persaingan dan ketidakbecusan pihak yg mengurusinya

      Delete
  19. Memang parah terminal ubung Saya juga mengalami yang Sama , tetapi Saya melawan bersama penumpang yang dipaksa paksa , Dan memutuskan Keluar dari terminal Dan menunggu bus agak jauh dari terminal . Dari kejadian tsb jika Saya hendak menyebrang kebanyuwangi Saya selalu Minta diberhentikan diluar terminal lalu menyebrang Dan berjalan agak Menjauh dari terminal yang membahayakan itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saat itu posisi kami dalam keadaan tidak bisa melawan (dikurung di dalam bus)

      Iya sepertinya lebih baik turun/naik di luar sebelum/sesudah terminal

      Delete
  20. Ane dari kecil kluar masuk terminal ubung aman2 aja kynya, dari jaman bus simpatik masih beredar sampe sekarang punah.
    Saran sih kalau mau kluar masuk terminal di bali musti hafalin nama2 bus malam buat alasan, kalau bisa datang ke terminal ubung lewat pintu belakang jgn pintu depan.
    Kalau ada yg datengin tanya mau kemana jawab aja "kota, naik PO apa". Contoh, "Mau ke surabaya, naik Malang Indah/Gunung Harta/Safari Dharma Raya/Pahala Kencana/Restu Mulya/Zena/Santoso".
    Solusi buat diturunin paksa, mungkin bilang gini "Udah ada sodara yg jemput di ubung/garasi bus"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sarannya, Mas Ramanda.

      Ini bisa jadi cara untuk menghindari paksaan preman, tapi mereka bisa saja jadi masa bodoh.

      Jika yg terus menyikapi hal seperti ini adalah kita setiap bepergian, kapan transportasi akan berubah jadi lebih baik??

      :)

      Delete
  21. Kayanya sih di RI sama semua ya tipenya. Saran saya sih setiap mau trip dipersiapkan sebaik mungkin tentang medannya, beli tiket dari tempat terpercaya (semua moda transport), usahakan jangan main asal jadi turis tembak (pendapat pribadi). Kalau saya pribadi setiap pergi ke tempat baru selalu detail persiapannya, sama mental siap duel nyawa (bawaan anak priok) :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Banjarmasin, Surabaya, dan kota2 besar lainnya gak seperti ini kok 😊

      Setiap akan bepergian, semuanya sudah direncanakan dgn matang kok. Dan hal seperti ini juga bisa sering terjadi di luar dari apa yg sdh direncanakan.

      Nah yg penting siap mental, haha :D

      Delete
    2. Klo di Tanjung Priok lebih apes lagi mas/mbak admin. Bus damri dari bandara gak mau antar ke priok krn takut ama preman, jadi terpaksa naik taksi. Pernah juga pengalaman waktu naik gunung gede di terminal bogor hampir ribut sama preman terminal, tapi ya itu modelnya tembak ditempat persiapan (tiket, dan waktu gak disiapkan). Tapi selama ini saya naik bus malam dari dps-jkt, dps-sby, dps-semarang, kalau kita naik bus yg terkenal kaya pahala, safari, lorena dll gak akan ada gangguan preman2 gitu. Di pulogadung jakarta banyak banget model preman gitu, tapi klo setiap saya ditanya mereka cukup bilang sudah ada tiket dan pasang muka yg tegas jadi mereka pun segan. Just my 2 cents from experience :)

      Delete
  22. Apa kita harus penampilan gembel ya saat liburan ke Bali? Khususnya saat di Terminal. Saya juga pernah main kucing-kucingan sama preman di terminal. Untungnya selamat, walaupun hampir baku hantam karena menolak jasanya. Makasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, berpenampilan gembel ya. Agak susah juga kalau misalkan bawa tas yg lumayan apalagi carrier 45-60L :)) ya sama saja, haha

      Syukur deh kalau selamat.
      Saya masih ragu apakah mereka ini hanya mengancam atau benar2 berani main hantam, walaupun sdh sempat tarik-tarikan dan mendorong.
      Tapi ini benar, beberapa orang juga sering hampir baku hantam sama preman ini

      Delete
  23. Persis sama! Sy sementara waktu tinggal di banyuwangi pernah kena preman mengwi. Luxio harus diisi 10 org baru berangkat. Jam 3 dinihari, hujan, mata ngantuk krn dibangunkan paksa preman² kampret, "dipalak" pula. Belum lg pungli di pelabuhan gilimanuk gr² eKTP sy sedang diperbarui status kawin, kena "palak" 50rb.
    Selebihnya dr ubung ke ngurahrai kena ojek 50rb (stlh tawar-menawar) masih masuk akal krn jarak yg jauh (cek aplikasi bluebird 150an). Niat backpacker ngirit malah ngorot. Pingin sekali² terbang ke jkt via DPS (biasanya SUB) malah "dirampok".Kapok!
    Kalo diitung² murah travel (banyuwangi-ngurahrai 150k) daripada percobaan bus 80k (jember-mengwi) + "denda" ktp 50k + taksi gelap mengwi-ubung 15k + ojek ubung-ngurahrai 50k, total 195k plus ketidaknyamanan. Tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih, mau irit malah ngorot. Dan yang lebih parahnya jauh dari kata aman & nyaman! Bikin shock.

      Delete
  24. Haduhhh bisa parah gini ya :(
    Terimakasih informasinya, mulai sekarang harus melek informasi kalau mau jalan-jalan. -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Yoggy. Terima kasih juga sudah mampir dan membaca :)

      Delete
  25. kalau dengar cerita seperti ini ya..was-was juga apalgi kalau sendirian hmmm

    ReplyDelete
  26. pada intinya sihh menurut pribadi saya pernah bacpakeran ke bali, mending dari gilimanuk cari travel aja, dari pada naik bus,,harga emang beda tapi travel bisa langsung ke kuta atau penginapan di poopies,tanpa masuk terminal mengwi atau ubung,

    ReplyDelete
    Replies
    1. cari travel di Gilimanuk di mana ya?

      Delete
    2. ehh sori gan maksudnya ketapang hehe, waktu itu saya dan teman saya berjalan dari stasiun kereta menuju pelabuhan, nah pas di dpn pelabuhan ada travel yg nawarin langsung ke kuta dan nego harga jd deal deh,,kalo ga salah gunung harta tapi bukan Bus yaa,,tp setahu saya banyak kok travel yg nawari di dalam atau luar pelabuhan ketapang hehe

      Delete
    3. Oh di Ketapang, hehe.
      Travel untuk satu mobil kah? Minimal berapa orang, dan dapat harga berapa perorangnya?

      Delete
  27. Udah gak bisa komen banyak. Bacanya gregetan dan rasanya pingin jedot-jedotin kepala tuh preman ke jalanan *nganu, nyuruh pak polisi tentu hehe. Aku share ya, semoga pihak terkait segera berantas tuh preman-preman ngehe.

    ReplyDelete
  28. Skenarionya persis sama dengan pengalaman saya semalam. Perjalanan dari Surabaya menuju Mataram Lombok. Berangkat dari stasiun Gubeng dengan kereta Sri Tanjung, sampai di stasiun Banyuwangi baru sekitar pukul 21.30. perjalanan saya lanjutkan dengan berjalan kaki ke pelabuhan Ketapang. Waktu itu langsung ada yang nawarin bis menuju terminal Ubung 50k. Karena dipikir2 nyari disini sama di Gilimanuk sama saja, akhirnya saya putuskan naik bis (namanya AMW kalo ga salah) seharga 50k sampai terminal Ubung (kesepakatannya gitu).
    Setelah nyebrang menggunakan fery, perjalanan dilanjutkan. Karena malam, sepanjang perjalanan saya pun tidur. Kira2 pukul 01.00 saat tiba di terminal Mengwi, saya melihat supir bis tadi diintimidasi oleh seorang preman, rambut gondrong dan tubuh diselimuti tatto. Tak lama kemudian, orang tersebut teriak2 membangunkan penumpang, sampai narik2 baju juga. Persis kronologis di atas. Lalu penumpang yg turun digiring naik angkot yg ternyata mobil "APV". Saya jg jadi ikut turun karena saya pun tak berdaya dibuatnya. Anehnya, ada seorang polisi jaga disana yg melihat kami dibentak2 preman namun diam saja. Seperti kronologis di atas juga, penumpang angkot preman tersebut akan jalan jikalau penumpangnya sudah 10 orang. Dengan susunan 4-4-2 (itu bawa orang apa binatang). Karena penumpangnya hanya 5 orang, kami pun diminta membayar 35k untuk bisa sampai ke terminal Ubung.
    Dan itu tidak hanya di terminal Mengwi, sampai di Ubung pun ternyata sama. Padahal sy melihat ada aparat berjaga disana. Seorang polisi jaga di pos polisi depan terminal Ubung dan anggota TNI didalam terminal. Entah anggota TNI jaga atau ingin menumpang juga. Tapi saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, calo2 dan preman bertebaran disana.
    Saya pun sempat ribut dengan salah seorang preman disana yg mengancam dengan kata2 "kamu disini pendatang, jangan nantang". Belum sempat saling tonjok2kan sy pun memutuskan pergi berjalan kaki ke arah Padangbai. (Ngikut Google map)
    Selama perjalanan, beberapa kali mobil dan tukang ojek menawarkan jasa tapi saya yg sudah keburu kesel langsung nolak. Kalo ternyata di dalem mobil ada preman yg nungguin, kan takut juga.
    Saat pemerintah melakukan pemberantasan pungli oleh petugas/pegawai pemerintahan, pungli oleh preman dan calo masih saja ada.
    Ubung dan Mengwi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Point "kamu di sini pendatang, jangan nantang," rasanya pernah sampai juga di telinga saya.

      Delete
  29. Sy pernah mengalami hampir kena paksa para calo/preman di terminal ubung saat itu sy habis selesai krja praktek dan mau balik ke sby sy dan 4 teman sy brngkt dr kontrakan nyewa mikrolet karena barang bawaan banyak sesampai di terminal ubung tas teman saya ditarik dan dipaksa beli tiket yg dia bawa terpaksa kami melawan sambil bilang kalo sudah beli tiket dr jauh hari ya ahirnya si preman pergi sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membaca dan berbagi, Rizky.

      Delete
  30. Saya yang sudah penduduk Bali aja paling menghindari dah terminal ubung, kalau harus berpergian dengan bus sebisa mungkin tidak naik/ turun disana, pernah kena peras preman2 juga waktu mau ke negare, ditawari bus jalur surabaya, harga yang disebutkan dibawah sama setelah kita naik ke bus beda, kan penipuan yah, begitu juga kalau turun dari bus, pasti sudah ada preman ngerubutin nawarin transport yang harganya wow, setelah pengalaman2 yang saya alami beberapa kali itu, sy akali jika harus naik bus maka naik dan turunnya di luar terminal ubung, atau jika mau bepergian ke luar kota lebih baik naik pesawat deh, nggak apa bayar lebih asal nyaman n nggak mubasir uang saya pakai ngasih makan para preman hahahhaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha
      Terima kasih Yua, sudah mampir berbagi di Cerkiku. :)

      Delete
  31. saya yang asli kelahiran bali juga pernah mengalami kejadian seperti ini, udah jadi rahasia umum si preman berambut gondrong dan penuh tato itu emang berkuasa di terminal mengwi ...kesel juga sih, maksa udah gitu nada bicaranya kasar banget sama penumpang, padahal kalo enggak ada penumpang dia mw makan dapat uangnya dari mana -.-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sdh jd rahasia umum ya?
      Namanya juga preman..

      Delete
  32. Ini klo di up ke media sebenernya bisa aja ditangani sama pemerintah setempat. Cuma sayang, mungkin karena jaringan mafia disana sudah masuk ke area pemerintahan jadi Pemda setempat terkesan acuh seolah semua baik2 saja. Makanya mending liburan di Lombok aja, nanti ga mau pulang lhooo..

    ReplyDelete
  33. Kalo naik travel dr surabaya ke denpasar aman ga?

    ReplyDelete
  34. Udah hampir 3 tahun tiap 2 minggu sekali surabaya - bali naik bis, tapi blm ketemu cara paling gampang menghindari preman2 ini..
    Dari copet sampe persekusi bener2 pernah saya alami!!!

    ReplyDelete
  35. Jd inget waktu backpackeran tahun 2012. Dr gilimanuk naik bis damri sm 4 org teman dan turun di terminal ubung. Baru aja turun dr bis, langsung tas saya diambil sm calo2 itu dan maksa buat menawarkan hrga yg mhal buat tujuan ke legian. Tp saya dan tmn2 langsung blg "kita udah dijemput" sambil saya rebut tas ransel dan jln cpt menuju pintu keluar terminal. Jadilah kita naik taksi buat ke legian dan bayar 100rb buat 5 org. Itu tahun 2012. Dan ternyta skrg msh jg kyk gt ya

    ReplyDelete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Komen dong! Jangan sungkan untuk meninggalkan komentar, ya!